Lamaran/Engagement: Review Vendor Hotel Ibis Style Jemursari, Surabaya

So, here we come!

After he proposed (dengan cara yang sama sekali tidak terduga—I’ll share to you later), dan setelah keluarga ketemuan, akhirnya diputuskan mau lamaran tanggal 7 Maret 2019. Pas hari Nyepi, hari kecepit jadi bisa dianggap libur long weekend.

Sebenernya saya dan Mr. B ga mau ada acara engagement. Ada satu temen kami yang langsung persiapan wedding dan itu enak banget. Gak cape, ga ribet, dan yang terpenting, uangnya gak kepake banyak. Tapi karena keluarga minta, so yah, kami pikir cuma acara makan-makan sederhana aja.

Persiapannya sekitar 3 minggu, dan saya lumayan beribet di persiapan tapi cukup puas sama hasilnya.

Yang pertama saya pikirkan adalah, karena ini acara keluarga aja, dan cuma makan-makan, supaya ga ribet saya pengen makan di restoran aja. Gak perlu bersih-bersih rumah, tetangga gak perlu kepo, dan lebih intimate aja. Pilihan yang terlintas pertama kali adalah Hotel Ibis Style Jemursari, Surabaya.

Alasannya simple.

Ada temen ngerayain ulang tahun anaknya di sana, dan SALADNYA JUARAAAKKKK!

I loooove salads!!

Dan yang terpenting, Mr. B suka banget sama penyetan Ibis. Biasa makanan hotel kan ya gitu ya, Standart. Apalagi ini hotel budget. Tapi Hotel Ibis Style bedaaa… makanannya kami suka. I have no complaints at all sama makanannya hotel ini.

Jadi kami coba kontak marketingnya, nanya-nanya dan deal in the best price (super best, thank you so much, ce Citra!), keluarga juga setuju, terutama opini dari salah satu keluarga besar ternyata setuju banget diadain di sana. Ga ribet dan mereka juga seneng makan di sana katanya.

Even my photographer said the place is so nice! *proud me*

Kami nggak sewa private room, tapi kami datang seperti pengunjung biasa, makan di restorannya, jadi berbaur dengan pengunjung lain. Karena acaranya kami pagi menjelang siang, jadi restoran masih sepi.

Hotel View

Foto sekilas sebelum tamu dateng. See, masih ada beberapa pengunjung.
Another side
Food stall
Warna restorannya Hotel Ibis Style emang model kayak gini. Colorful tapi gak norak menurut saya. Jadi masih ada nuansa cheerful, but warm & homey.

 

Viewnya bagus ya untuk ukuran hotel budget? Lihat deh beberapa hasil fotonya:

Sebenernya ada view pool juga, tapi karena gak pake rundown, jadi ga sempet deh foto-foto di sana 😦

Yang bikin sedih lagi, karena terlalu fokus sama ngenalin Mr. B ke keluarga besar, jadinya saya makan dikit banget, ga sempet ngicip semua makanan. Jadi review makanan ini berdasarkan tanya-tanya yang lain plus compare dengan pertama kali saya makan di Hotel Ibis Style.

Salads

Let’s start with the salads!

Salah satu alasan kenapa saya memilih Hotel Ibis Style Jemursari adalah karena saladnya! Saya jatuh cinta pertama kali dengan Caesar Saladnya. Enaaakkk banget, gurihnya dapet, manisnya dapet, dan isinya gak pelit, nggak sayur semua tapi juga ada dagingnya.

Sayang waktu kemarin acara di sini ga dapet Caesar Salad 😦

Tapi tetep semua saladnya enak-enak. Mama bilang Thailand Salad-nya enak. Manis, asin, pedas gitu rasanya. Jadi gak bikin eneg kalo makan salad. Saya sendiri juga oke dengan salad-saladnya.

Main Course

Untuk menu-menunya sendiri sebagian besar menu masakan Indonesia, which is pasti aman untuk keluarga besar saya yang gak terlalu bisa makan western. Yang ini saya gak banyak makan, tapi melihat ludesnya beberapa masakan dan seringnya saudara-saudara saya bolak balik dari meja ke food stall, kayaknya sih cocok sama lidah mereka 😀

Menu berkuahnya kalo ga salah ada Sup Ikan, Soto Ayam, Mie Ayam dan Bubur. Saya coba Mie Ayamnya aja, kuahnya light, bahannya bisa pilih sesuai selera. Sayangnya sayur-sayurnya banyak yang kelihatan kurang segar. Padahal saya pecinta sayur.

Daaan, ini dia bintangnya!

Tempe Penyet!

Penampilannya biasa aja ya?

Tempe Penyet ini yang bikin Mr. B kesenengan dan bahkan salah satu tante saya sengaja berdiri gak jauh-jauh dari tempe penyet ini biar ga kehabisan huahahahah.. Menurut saya hari itu kok agak kurang nendang rasanya dibanding pertama kali saya coba. Tapi saya pikir sepertinya bias karena saya gak konsen makan juga sih hahaha..

Dessert

Kue-kuenya Hotel Ibis Style ini rasa lokal Indonesia. Jadi buat lidah yang ga kebiasa, gak akan ngerasa aneh atau eneg dengan kue-kuenya.

Once again, saya compare dengan pertama kali makan di sini, kalo ga salah ada kue-kue jajanan pasar gitu dan itu rasanya enak. Suprisingly enak karena saya biasanya gak expect masakan hotel bisa seenak kalo jajan di luar. Tapi di Ibis Style saya bisa cocok dengan rasanya, bahkan lebih suka jajanan pasarnya Ibis daripada jajanan pasar di luaran. Sayang waktu acara lamaran ini jajanan pasarnya gak banyak.


 

Overall saya sangat puas dengan Hotel Ibis Style Jemursari. Mulai dari dealing dengan marketing sampai acara selesai, saya puas banget. Mengingat berbagai persiapa cuma punya 3 minggu. Semua yang di hotel juga sangat helpful. Bantuin siapin meja untuk barang-barang seserahan, ngatur meja dan kursi yang beberapa kali pindah lokasi, sampai sigap nyiapin masakan.

Kalo dipikir-pikir sekarang kok rasanya sedih ya gak banyak ngicipin makanan Ibis. Terlalu fokus sama acara. Mungkin pesan untuk yang mau lamaran dan model panikan perfeksionis kayak saya, hire atau ajak orang untuk jadi EO deh.

Meski cuma makan-makan keluarga gini aja kepikiran loh! Bingung antara mau foto dulu atau makan dulu. Mau makan bingung nemenin fotografer yang juga teman saya. Seandainya saya ajak 1 teman lagi sebagai EO, mungkin saya bisa lebih fokus makan 😀

Ibis Styles Hotel

Hotel bintang 3

Alamat: Jl. Raya Jemursari No.110-112, Surabaya
Telepon: (031) 8498999

Info marketing bisa tinggalin email di komen yah!

Welcome Back!

Waw.. ini pasti hiatus terlama yang pernah saya lakukan. Bukan cuma 2-3 bulan, tapi 3 tahun! xD

Parah banget, sama sekali gak pernah nulis jurnal lagi. Terlalu sibuk sama sosmed. Sama seperti alasan blogger-blogger lainnya sih. Instagram bener-bener take all your “old” life. Really.

Anyway, sedikit update dari kehidupan saya selama 3 tahun ini, so many things happen, dan bacain tulisan-tulisan saya yang lama di blog ini ternyata bikin “spark joy” inside my heart. Kayak ada something warm gitu, dan bikin senyum-senyum lagi. So, here we are. Saya memutuskan mencoba jurnal lagi, untuk dibaca diri saya sendiri di masa depan.

Ada 2 hal besar yang terjadi di kehidupan saya:

  1. Memutuskan resign dan membangun bisnis sendiri
  2. Dilamar, engagement, dan persiapan pernikahan 🙂

Karena yang nomor 1 masih dalam pergumulan yang saya sendiri ga tau gimana harus cerita, let’s start with number 2.

It’s kinda private stories, tapi saya coba minta ijin Mr. B untuk boleh dicertakan, with his permission 🙂

Kalau alasan saya pribadi, kenapa akhirnya mau tulis blog lagi tentang wedding preparation stuffs ada 3 hal:

  1. Karena ternyata memang review dari blog-blog itu lebih ampuh dan membantu banyak banget dibanding ke wedding fair.
    Berhubung sekarang mainnya di Instagram, akhirnya harus stalking banyak akun untuk cek vendor. Seru tapi jujur, capek banget. Akhirnya saya putuskan cuma lihat dari wedding-nya temen-temen aja yang emang saya suka weddingnya.
    .
  2. Budget kami super duper terbatas.
    Literally terbatas.
    Kami berdua sama-sama ada cicilan properti (dan sekarang nyesel kenapa harus nyicil 2 properti di waktu yang bersamaan), kami berdua gajinya belum 2 digit, jadi kebayang ga tabungan kami berapa? 🙂
    .
  3. Support local brand vendors
    Tahun 2019 ini saya mencoba untuk menghargai pekerjaan teman-teman saya. Yang saya bisa lakukan saya bisa menulis review di blog. Hopefully this will help their business.

Nantikan cerita-ceritanya dan semoga bisa rutin ya untuk tulis reviewnya!

Teaser for next post!

Mau Apa?

Biasanya sih untuk celotehan macam ini, saya nulis di status sosmed. Karena biasanya idenya cepet ilang, sedangkan kalo nulis di blog kan ‘lebih ribet’ daripada di kolom status. Tapi untuk kali ini biarlah. Saya lagi pengen nulis sesuatu di blog ketimbang di status yang akan saya sesali beberapa waktu mendatang.

Emangnya mau nyeloteh apaan sih?

Lagi-lagi. Politik.

Sejak tadi siang, status sosmed saya dipenuhi dengan keheranan dan pertanyaan (hingga kemarahan) dari para pendukung Anies Baswedan. Ya, hampir sebagian besar teman sosmed saya merupakan pendukung Pak Anies -yang lantas mendukung Pak Jokowi.

Hampir semuanya bernada kaget dan tidak percaya bahwa orang semacam Pak Anies akan diganti, apalagi diganti oleh orang yang dipercaya mampu memberikan harapan ke Indonesia dengan Revolusi Mental-nya.

Saya, sejak 2014 mulai sadar bahwa ya begini inilah politik.

Politik bukan tentang SIAPA.

Politik itu tentang MAU APA?

Saya nggak pilih Jokowi karena saya percaya dia bisa bawa perubahan ke Indonesia lewat kebijakan-kebijakannya.

Saya juga ga pilih Jokowi karena gembar-gembor media.

Saya pilih Jokowi karena MAU APA-nya saya jelas. Saya MAU:

  • Prabowo gak jadi presiden
  • Ahok jadi gubernur DKI

Chance untuk ngedapetin itu jelas ada di Jokowi. Jadi saya pilih dia.

Jadi apapun keanehan yang dilakukan Jokowi saat ini, gak terlalu mempengaruhi saya. Kecuali kalo mendadak Jokowi menyetujui kegilaan #IndonesiaTanpaPacaran atau #SayYesToSameSexMarriage, atau dia mengumumkan pengunduran dirinya dan minta Rhoma Irama gantiin dia, nah itu waktu yang tepat buat saya nyinyir maki-maki di sosmed.

Di sosmed doang marah-marahnya?

Ya kalik, saya ga sebego itu terbang ngabisin duit ke Jakarta hanya demi marah-marah di depan Istana Presiden.

I’ll use my weapon. Words.

Nah karena politik adalah tentang MAU APA, sebenarnya tidak ada yang mengherankan dari reshuffle menteri. Mungkin saja MAU APA-nya Jokowi saat ini tidak bisa tercapai bersama Anies atau Susi.

Sebagai seseorang yang pernah ada dalam politik di perusahaan besar, saya bisa sedikit memahami ‘sulitnya’ bertahan di tengah gempuran politik. Memang ada kalanya harus ‘kalah’, supaya nggak mati konyol. Supaya bisa bangkit dan maju di peperangan selanjutnya yang lebih besar.

Jujur, saya juga ga tau MAU APA-nya Jokowi ini gimana. Sebagai orang yang di luar lingkaran pertempuran yang sebenarnya, saya (dan mungkin jutaan manusia Indonesia lainnya) sedang bertanya-tanya.

Kadang saya sampai harus memaksa diri saya sendiri untuk berpikir dan berharap, bahwa apa yang dilakukan Jokowi selama ini adalah sebuah strateginya, untuk pada akhirnya memukul balik lawan-lawannya dia demi Indonesia.

Tapi harapan adalah sekedar harapan. Kenyataannya politik tidak sesederhana itu. Orang-orang yang gak mengalami langsung seperti kita-kita ini bisa apa sih selain nyinyir?

Lain kali kita bisa belajar.

Kalo memilih seseorang di dunia politik, pilih orang yang bisa menjelaskan dan terlihat berkomitmen menjalankan MAU APA-nya dia. Bukan karena dia dibicarakan banyak media. Bukan karena dia dekat dengan rakyat. Bukan karena dia terkenal.

.

Eh, tapi kalo jadi politikus, ya harus terkenal dong ya!

Selamat Jalan, Pak KO!

Bangun pagi di hari Minggu pagi harusnya semangat karena hari itu libur dong ya? Tapi yang ada malah hari Minggu kemaren saya denger kabar dari kantor lama saya.
.
Pak KO meninggal dunia.
.
Susah mendeskripsikan perasaan saya waktu itu. Yang ada saat itu, masih baru bangun kriyep-kriyep di tempat tidur, saya cuma kebayang Pak KO di kantor. Pak KO yang kurus, menghitam, rambutnya makin putih dan tipis, jaketnya makin tebal, kupluknya yang selalu dipakai tiap kali ke kantor, dan masker yang kadang-kadang dipakainya kalau tubuhnya lagi gak fit.
.
Susah menyangka bahwa beliau “masih” 53 tahun.
 img_0887-1
Pak KO, alias Kholili Indro, adalah salah satu wartawan dan redaktur senior di Jawa Pos. Usia pensiun wartawan seharusnya 44 tahun, tapi entah karena dedikasi -atau emang butuh duit untuk menyambung hidup-, Pak KO tetep terus masuk kantor. Edit berita. Bahkan terus seperti itu meski harus menjalani kemoterapi karena kanker getah bening yang dideritanya.
.
Saya ingat waktu pertama kali masuk JP, saya memang gak begitu kenal dekat dengan Pak KO. Selain karena masih baru, saya memang tidak ditempatkan di posnya waktu itu -sepak bola. Sejak awal masuk, yang ada di grup WA desk Olahraga waktu itu ucapan-ucapan semoga lekas sembuh untuk Pak KO, yang sedang menjalani kemoterapi entah ke berapa kalinya.
.
Saya sendiri awal-awal di JP gak akrab dengan beliau. Berita saya emang pernah diedit oleh Pak KO, tapi tanpa bicara apapun ke saya, tiba-tiba berita udah oke. Kontak paling dekat yang pernah saya lakukan ke Pak KO cuma ucapan semoga lekas sembuh via grup WA dan ngelewatin mejanya kalo mau ke kamar mandi kantor 😀
.
Pertama kalinya saya dengar Pak KO menyebut nama saya itu waktu kami satu desk sama-sama menjenguk beliau di RS Husada Utama. Ketika beliau tumbang lagi, sebelum ngantor kami menengok kabar Pak KO. Di situlah pertama kalinya, dengan suara parau akibat terapi, beliau menyebut nama saya. Memperkenalkan saya kepada istrinya yang menjagai dia.
.
“Sing wadon iki Vo, bu..”
.
Saya cuma senyum-senyum malu dan mengangguk pada Bu KO.
.
Hari itu persepsi saya berubah. Karena tidak akrab, saya kira Pak KO gak bakalan kenal saya. Ternyata dia kenal 😥
.
Saya memang tidak sering ngobrol dengan Pak KO. Sebagai wartawan baru, saya cuma pernah “didongengi” tentang gimana Pak KO berjuang masuk meliput Olimpiade tahun 2000 di Australia, padahal dia gak dapet press card. Salah satu pesannya yang membuat saya bisa melewati segala tantangan berburu berita adalah soal kedekatannya dengan narasumber.
.
“Kalau waktu itu gak kenal dekat dengan Indra (Indra Gunawan), mungkin waktu itu sudah diusir polisi dan diperkarakan,” katanya.
Pak KO itu juga terkenal sebagai redaktur yang suka edit-edit fotonya sendiri. Di folder berita, suka muncul foto-foto Pak KO naik jet tempur (literally naik alias Pak KO duduk di atas jet tempur dan terbang di langit), Pak KO naik mobil mewah, Pak KO terbang kayak Superman, sampai kayak foto ini.
.
IMG_0886
Foto profile WA-nya Pak KO
Setelah pindah dari desk Olahraga ke desk Metro pun, beberapa kali Pak KO masih menyapa saya. Di lift kantor. Waktu melewati meja saya di Metro. Waktu mau pulang. Memang standar yang ditanyakan, sekitar kabar di Metro dan apakah sudah betah di JP.
.
Selamat jalan, Pak KO.
Terima kasih karena keramahannya selama di JP.
Will miss you a lot..
.
FullSizeRender1FullSizeRender2

Movie Month!

Huahhh.. Kerjaan di kantor numpuk banget sampe gak sempat update blog huhu.. Baru sempet sekarang, karena ini hari terakhir ngantor -sebelum liburan Lebaran- dan kantor sepi! Yeay!

Eniwey, bulan ini kayaknya bisa dinobatkan menjadi bulan NONTON! Habis, tiap minggu kayaknya selalu ada agenda nonton. Baik itu nonton bioskop, atau nonton di laptop hahaha..

Jadi daripada gak ada bahan postingan, mending saya ngereview film-film yang sempet ditonton kemaren-kemaren ya. Ga pake sinopsis soalnya udah telecek’an di Google. Cari aja sendiri ya hehehe.. Ini murni review saya dan pandangan saya setelah nonton.

 

Independence Day: Resurgence


Sebagai genre film yang (umumnya) bikin saya tidur di bioskop, apalagi saya nontonnya udah jam 21.00, ID cuma bikin saya kesirep beberapa detik itu berarti bisa dibilang film ini sukses yah? Walaupun menurut saya banyak bau-bau politiknya, tapi ya sudahlah. Bisa bikin ketawa karena beberapa celetukan konyolnya boleh juga.

Jalan ceritanya gampang ditebak, ringan, dan adegan tembak-menembaknya cukup seru. Saya sendiri sempet merem ngantuk beberapa detik karena capek lihat layar yang penuh tembak-tembakan laser. Tapi sepertinya teman-teman cukup menikmati, karena Anggren bener-bener duduk kaku di kursinya, tegang ngikuti adegan per adegan hahaha.. Sampe Teapresso yang kita beli ga disentuh sama sekali selama nonton! Hahaha..

Finding Dory


Ceritanya juga ga jauh beda ama Finding Nemo. Emang sih pas adegan Dory dan keluarganya itu bikin mata berkaca-kaca, apalagi ada tokoh baru, Hank si gurita ternyata bikin film ini gak ngebosenin meski alurnya sama kayak Finding Nemo. Ya udah gak jadi kecewa deh nonton ini hihihi..

Dan saya baru tau kalo setelah credit name ada lanjutan adegan. Epribodei yang nonton lanjutan ini please spoiler mee!!! Huhuhu…

Zootopia


Iya saya tahu ini film lama. Gak sempat nonton akhirnya saya nonton di laptop. Dan…. Ini.. Film… Bagus.. Banget! Ceritanya oke, pesannya dapet, animasinya keren, soundtracknya juga oke! Film sindiran untuk masyarakat yang rasis ini bener-bener keren. Selama nonton, saya kayak kebawa banget alur ceritanya, bahkan sempet gak nyangka dengan endingnya. Seru banget!

My Stupid Boss


Ini film rekomendasi Cuz dan Anggren. Jujur aja sih, saya kurang menikmati filmnya. Ketawanya nanggung, ceritanya nanggung, ada yang berasa ngeganjel gitu lah selama nonton ini. Cuma emang saya akui setting tempat dan pewarnaan filmnya bagus. Akting Reza Rahardian juga oke lah selama ini dia kan selalu jadi cowok kece. Cuma dilihat-lihat kok aktingnya lama-lama mirip Mr. Bean ya? Tempe bener sih kamu…
Oke, pertanyaannya sekarang, kenapa bulan ini kayaknya kalap banget nonton, apalagi yang Independence Day itu, sampe belain banget nonton malem-malem. Itu.. Tak lain.. Karena.. BCA Xpresi saya dapet promo nonton di Blitz sampe bulan November nanti!!

Akhirnyaaa!!

Nggak nyangka gitu lho BCA Xpresi yang selama ini saya anggep cuma tempat nitip duit buat dikeluarin, ternyata nyediain promo. Promonya nonton lagi! Luar biasaaa.. Makanya sampe kalap nontonya hahaha..

 

Untuk promonya sendiri Buy 1 Get 1 untuk tiket nonton Regular 2D di CGV Blitz (kalo di Surabaya cuma di Marvell City) setiap hari Selasa atau Sabtu (seminggu cuma bisa 1 kali).

Asik kan?

Gak enaknya:

– harus datang ke tempat pembelian tiket, ga bisa online, bayarnya pake debit BCA Xpresi

– 1 kartu cuma bisa 1 kali transaksi

– kalo momen puasaan gini, nontonnya terpaksa malem-malem, beli tiketnya siang-siang huhu.. Kalo ga gitu, antriannya gilaaa..

 

Tapi apakah saya kapok?

Tentu tidakk!

Promo ini jelas akan saya manfaatkan sebaik-baiknya sampe promo berakhir hohoho.. Lagian nonton di Blitz itu enak.. Jarak kursinya jauh jadi kaki bisa selonjoran. Trus nonton di kursi paling atas tetep enak. Malah paling enak menurut saya karena gak bikin capek mata, tapi tetep dapet feelnya. Plus jaraknya Marvel City dari kantor/rumah cukup deket (25-30 menit perjalanan). Bahkan ada lift langsung ke Blitz dari parkiran. Jadi gak ada certanya telat nonton hehehe..

 

Kekurangannya paling iklan sebelum mulai filnya baaanyak banget. Buat yang udah on time jadi kesel nunggunya. Tapi bisa jadi keuntungan juga sih ya buat yang ngaret jadi gak ketinggalan movie ahahaha..

 

So, next movie adalah Sabtu Bersama Bapak. Uda ga sabar niihh! 

Insecurity & Security

Udah Jumat lagi aja! Rasanya cepet amat ya waktu berjalan hahaha.. Emang lagi belajar rutin ngeblog lagi nih. Eniwey, saya jadi pengen cerita kejadian yang barusan terjadi minggu ini.
.
Jadi entah dari kapan awalnya, tapi yang saya rasakan kayaknya bulan ini saya banyak ngalami yang namanya insecure, krisis percaya diri, minder, and you name it. Dicuekin dikit langsung nge-down. Diece (diejek) dikit langsung down. Agak dikritik dikit langsung ciut ga mau ngapa-ngapain lagi. Duh pokoknya manja banget.
.
Dan hal ini ternyata berdampak ke hubungan saya sama Mr. B. Ya gimana ya, yang tiap hari diajak ngobrol (selain orang rumah) kan ya orang ini. Akhirnya ya dia juga yang kena getahnya.
.
Puncaknya minggu-minggu terakhir ini.
.
Di gereja kebetulan ada acara lomba kreativitas gitu. Dan emang dari lama saya dan beberapa temen CG pengen ikutan. Nah, kebetulan Mr. B ini emang udah juara 2 tahun berturut-turut di acara ini. Waktu saya coba utarakan keinginan saya untuk ikut acara ini, Mr. B bilang dia gak bakalan ikut deh, supaya saingan saya hilang satu *Pede banget dia*
.
Di satu sisi, saya seneng. Berasa dia mikirin saya banget. Tapi di sisi lain, saya jadi merasa rendah. Seakan-akan kalo ada dia, saya PASTI kalah. Dan saya ngarepnya sih dia gak ngomong gitu, tapi langsung menawarkan bantuan gitu lho. #kode
.
Oke waktu itu gak ada masalah berarti sih. Semuanya masih hepi-hepi aja sampai…
.
…saya cerita kalo tim saya jadinya gabung dengan tim creative yang lain.
.
Tanpa dengerin alasan saya, Mr. B langung memotong dengan ber-yaah, kayak kecewa banget, trus dia bilang padahal dia udah bela-belain untuk gak ikutan, dan akhirnya nyesel gak ikutan kalo akhirnya saya gabung sama tim kreatif yang lain. Ya sebenernya poinnya dia bener sih.
Pertama, acara itu punya jemaat juga, jangan didominasi tim-tim kreatif yang emang udah biasa melakukan hal semacam itu.
Kedua, dia gak mau bibit-bibit talent yang bagus jadi gak bisa ikut karena takut saingan sama tim-tim profesional.
Ketiga, dia udah buktikan kalo underdog aja bisa menang.
.
Dan sejak malem itu, saya jadi super diem dan defensif. Nggak mengalihkan topik, tapi juga gak mau membuka topik. Perasaan saya? Sebenernya saya juga ngerti maksud dia baik, bahkan rela mundur demi kita gak ciut. Tapi saya juga gak kalah pusing mikirin perasaan anggota tim yang lain. Dimana mereka juga keder lihat saingan yang lain. Saya udah jelaskan ke Mr. B kalo situasinya gak semudah itu. Dia bisa pede karena dia bisa melakukan itu semua (konsep, syuting, ngedit). Sedang saya? Mau memotivasi anggota tim pake apa? Air ludah?
.
Bahkan sampai besoknya dimana itu jadwal kita ngedate, saya juga masih defensif. Males ngajak ngomong karena jadi serba salah. Saya juga kecewa sama diri sendiri karena bikin Mr. B kecewa sama keputusan saya. Dan saya gak mau membuka topik yang ujung-ujungnya saya diejek lagi. Jadi kita memutuskan tenang dengan nonton Zootopia bareng dan ngegame.
.
Mr. B sempet nanya kenapa, tapi saya tetep menolak jawab. Bukannya ngambek, tapi emang saya gak ngerti apa yang harus dijelaskan. Karena deep inside my heart tau kalo Mr. B benar. Jadi menurut saya menjelaskan alasan saya akan tetep percuma dan malah memperumit masalah. Toh masalahnya di saya yang lagi ga beres emang.
.
Eh, kok ya pas pulang mendadak hujan deres banget sampe kita harus berteduh. Mana Mr. B lupa bawa jas hujan dan dia lagi bawa laptop! Hmph.. Kayaknya emang teguran Tuhan supaya kita harus menyelesaikan masalah malam itu juga (katanya Mr. B hahaha)
.
Jadi malem itu Mr. B berinisiatif nanya lebih dalem. Saya tetep nolak untuk cerita, karena saya pikir cerita pun gak akan menyelesaikan masalah. Tapi Mr. B tetep maksa, meski gak menyelesaikan masalah, paling gak kita berdua mesti sama-sama lega dan tau perasaan masing-masing. Apalagi ini ada hubungannya dengan dia.
.
Karena dipaksa, jadi saya coba cerita sejujur-jujurnya tentang apa yang saya rasakan. Ya ampun susahnya.. Kayaknya kosakata saya perlu ditambah supaya bisa mendeskripsikan dengan jelas apa yang sebenernya saya mau. Susah banget soalnya saya harus mau hapus urat malu dengan mengakui kalo saya gak suka diejek dan disalahkan (meski jelas-jelas terbukti saya yang salah), harus mengakui kalo saya gak suka caranya dia memperlakukan saya (ngejek-ngejek dan manas-manasin) meski saya tahu itu tujuannya baik.
.
Mr. B baik banget malem itu. Dia dengan sabar dengerin saya. Gak motong pembicaraan saya. Dengerin dulu sampai abis. Saya tau dia pengen ngebantah dan ngebenerin, tapi dia tahan-tahan dan coba selembut mungkin menjelaskan apa yang dia maksud. Terharu banget… Meski emang gak menyelesaikan masalah, tapi apa yang dia lakukan malam itu sudah sangat menyentuh hati saya dan bikin saya jadi semakin aman sama dia.
.
Selesai pemberesan, Mr. B doakan saya di tempat. Selesai doa, eh beneran lho hujannya langsung tinggal rintik-rintik dan kita bisa pulang. Amazing!
.
Saya jadi bener-bener ngerti ternyata memilih pasangan hidup itu bukan cuma sekedar cocok, tapi juga yang satu visi. Kalo cuma cocok aja, pas nemu yang gak cocok gini bisa-bisa berantem dan perang dingin berhari-hari tanpa ada penyelesaian jelas. Tapi kalo kita sama-sama berkomitmen dan satu visi, se-nggak cocok apapun kita akan berusaha cari cara untuk tetep jalan bareng. Kejadian itu bikin saya jadi makin paham bahwa masalah yang ada di dalam sebuah relationship itu gak melulu harus ada penyelesaian, yang penting gimana kita berdua bisa memandang masalah itu dari pengertian yang sama.
.
Masalahnya sekarang? Emang belum 100% beres sih, tapi karena kita berdua sudah kalem, sudah sama-sama aman, jadinya bisa fokus. Saya fokus menyelesaikan insecurity saya, dia juga fokus ke dirinya. Hubungannya? Jadi aman deh, gak ikut-ikutan dalam masalah. Hehehe..
.
P.s.: thank you doa-doanya, B.. I thank God because of you, you know 🙂
.
99254

Perjuangan Mencari Penghidupan (part 2)

Okeh, melanjutkan di postingan sebelumnya soal nyari kerja. Di tahap ini saya udah bener-bener berharap ini kerjaan terakhir yang bisa bikin saya fokus berkontribusi. Bukan lagi nyari tau pengen kerja apa, bukan lagi capek ngadepin orang-orang yang gak bisa maju bareng sesamanya.

Tapi setelah sebulan ngajuin surat resign, eh kok ga dapet-dapet ya? Kalo sayanya sreg, perusahaannya nggantung. Kalo saya ga sreg, perusahaannya ngejar-ngejar. Bingung. Kali ini saya nggak mau asal nerima kerjaan. Kerjaan yang saya mau harus menuhin semua kriteria yang saya mau.

Sampe pada akhirnya, beberapa hari sebelum resign ada SMS masuk. Ternyata dari ownernya salah satu branding consultant. Dia nanya, apa ada Whatsapp? Karena beliau lagi sibuk banget tapi harus interview saya. Jadilah malam itu kami interview mendadak, via Whatsapp! Mr. B sampe geleng-geleng kepala ngeliat betapa nekat orang satu ini berani interview tanpa tatap muka dan mengganggu acara ngedate :p

Pertanyaan-pertanyaan standart interview mulai ditanyain lewat Whatsapp itu. Mulai dari kenapa kok tiba-tiba pindah jalur karir, sebutin kekuatan dan kelemahan, pengetahuan tentang branding, visi di kerjaan, sampe gaji yang diminta berapa. Dari interview yang aneh itu, si owner mengatakan ga ada masalah berarti, tinggal ketemuan dan tanda tangan kontrak.

Sampai di sini saya masih berusaha mencerna apa yang terjadi sesungguhnya. Baru kali ini ada owner perusahaan yang nyari karyawan interviewnya lewat chat?? Sungguhan ga paham. 

Dan kalau ga salah, weekend itu saya dipanggil interview. Daan… Interviewnya di mall! Sampe di sini saya udah agak kuatir dan mulai gak sreg. Belum apa-apa udah ganggu weekend saya. Trus interviewnya di mall lagi. HARUS PAKE BAJU APAA?? Ish.

Demi menghormati si owner, saya berangkat juga untuk interview. Telat sekitar 15 menitan karena kamar mandi mall waktu itu super rame dan saya mesti retouch make up. Huh. Makin bikin kesel sebenernya.

Begitu ketemu si owner, kesan pertama yang saya tangkap adalah: SOMBONG.

Huahahahaha jelek banget ya penilaian saya? Lah gimana.. Pas saya nyalamin dia, he didn’t make any eyes contact with me! –”

Selama interview pun dia lebih banyak ga fokus, lihat-lihat hp, ipad, diem. Kayak gak interest sama saya. Pertanyaannya pun rada-rada aneh. Lebih banyak nanyain background saya kayak tinggal di mana, anak ke berapa, ortu kerja apa, dulu SMA ambil jurusan apa, di kampus ikut kegiatan apa, di Jawa Pos kerjanya ngapain aja, selain kerja ada ikut komunitas apa, di luar jam kerja perginya sama siapa aja, temen-temen kamu siapa aja, dan muter-muter di situ. 

Saya pikir hari itu juga langsung ditetapkan dia jadi rekrut atau nggak. Ternyata setelah ngobrol panjang lebar dia tetep aja mau mempertimbangkan. Hiks… Meskipun interviewnya aneh, hari itu juga saya nggak nyesel dateng interview dan pengen banget join sama dia.

Alasannya?

Begitu dia tanya, apa ada pertanyaan? Saya langsung nanya dong: jam kerja di kantor gimana? Kerjanya seperti apa?

Ini pertanyaan krusial yang harus saya tanyakan karena kalo gak sesuai dengan mau saya, gaji sebesar apapun yang ditawarkan akan saya coret. *sombong dot com*

Si owner bilang: kita ngantor Senin sampe Jumat jam setengah sembilan pagi sampe jam enam sore. Sabtu Minggu libur (yeah!). 

Dan ini kalimat pamungkas dia yang bikin saya bertekuk lutut:

“Saya tuh gak suka karyawan saya berlama-lama di kantor. Kita kalo udah jam pulang ya langsung pulang. Jarang banget lembur kecuali terpaksa. Saya gak suka keryawan lembur atau berteman cuma dengan teman kantor. Harusnya karyawan punya dunia sendiri di luar kantor. Di kita ada yang punya komunitas gundam, dll. Gak melulu ngantor.”

OH. MY. GOODNESS!!

Keberuntungan macam apa yang diterima manusia laknat ini??

Saya kira orang yang punya pemikiran gini cuma Yoris Sebastian idola saya itu. Ternyata manusia macam ini masih hidup di dunia dan di Surabaya, men! Dan lagi kantornya tuh deket banget dari rumah saya! Cuma 15 menit perjalanan! Ini kalo bukan Tuhan, gak mungkin deh!

Nggak heran begitu beliau bilang mau pertimbangkan lagi, saya langsung lemas dan sedih. Segala kesombongan diri tadi langsung hancur rasanya. Mungkin kalo tadi disuruh ngabisin kopi si owner bakalan rela saya habisin demi bisa kerja di sana (eh itu sih ngarep ya? :p)

Balik rumah tuh udah kayak males mau ngapa-ngapain. 

Tapi entah kenapa waktu itu Tuhan kayak ngomong, sudah tenang aja. Dan hati tuh rasanya damaaai banget meski belum tau keterima atau nggak. Tapi saya ngerasa yakin bisa kerja bareng orang ini dan kayak ga bakal kecewa gitu.

Dan bener aja. Tiga hari setelah interview aneh itu, si owner nge-Whatsapp lagi, nanyain siap gabung gak di hari Senin. Tentu dijawab iyes dengan sukacita dong bos!

Buat saya, pengalaman ini bener-bener kalo bukan Tuhan gak mungkin terjadi. Mama bilang sebelum resign harus ada kerjaan dulu. Nyatanya Tuhan ngasih libur 10 hari untuk saya me-time, konek lagi dengan gereja dan CG, istirahat di rumah, beresin semua yang gak sempet diberesin. Amazing! His time is sooo perfect! Emang Tuhan itu selalu paling bisa diandalkan deh hahahaha..

Dan soal gaji dan benefit? Ga jauh-jauh dari kerjaan lama. Walau mungkin gak sefantastis kerjaan lama, tapi dengan semua benefit dan lingkungan kerja yang ditawarkan, rasanya semuanya worth it. Semoga aja bisa betah lama ya di sini…

Holiday Taman Safari Prigen

Sebelum lanjut postingan soal kerjaan, lagi pengen ngeposting soal yang hepi-hepi dulu lah.. Even di kerjaan saya sebagai jurnalis dulu sering banget jalan-jalan ke berbagai tempat, tapi yang bener-bener liburan baru setelah ‘lulus’ 😥
.
Jadi mumpung awal Mei kemarin kan long weekend, saya dan Mr. B menyempatkan diri untuk pergi liburan bareng. Karena cuma satu hari dan kita emang gak berniat nginep-nginep, akhirnya pilihan jalan-jalan jatuh ke.. Taman Safari II, Prigen! Jadul banget gak sih hahahaha.. Ya maklum. Saya terakhir ke Taman Safari kayaknya kelas 6 SD. Mr. B malah belum pernah sama sekali!
.
Perjalanan Surabaya-Prigen gak terlalu jauh. Kita berangkat jam 7 sampai sana sekitar jam 8.30. Dan RAME GITU LHO. Yang namanya antri naik mobil tuh udah kayak nguler panjaaang banget dari sebelum masuk gate TS II. Untungnya kita naik motor, jadi bisa nyelip-nyelip huehehehe.. Kalo ada yang nanya, apa bisa ke Taman Safari naik sepeda motor? Iya bisa banget! Nanti di sana keliling-keliling pake shuttle bus yang udah disediakan for freeee!
.
Kita ambil tiket terusan biasa (Tiket badak merah) harganya per orang kena 120ribu. Artinya kita bisa keliling safari, (seharusnya bisa) nyobain semua wahana, dan (seharusnya bisa) nonton semua pertunjukkan gratis. Kenapa ada “seharusnya bisa”? Baca sampe akhir ya hihihi..
.
Setelah selesai beli tiket dan parkir, kita nunggu shuttle bus di terminal. Gak tau namanya apa, saya sebut gitu aja soalnya emang suasana tempatnya kayak terminal bus! Hihi..
1462675259002
Tuh kan kayak terminal bus hihihi..
Setelah nunggu beberapa menit, lama tapi gak lama-lama banget sih, bus yang kita mau dateng deh! Kita langsung ambil tempat duduk paling depan samping pak supir yang sedang bekerja mengendarai kuda supaya baik jalannya.
1462675282970
Pas pak supir belom dateng
Setelah hampir penuh, bus langsung berangkat. Suasana TS II mendung-mendung enak gitu hihi.. Dan ya catatan ya, kayaknya ga perlu kemana-mana kalo long weekend. PENUH BANGET! Masa mau safari aja pake acara macet sama mobil-mobil lain hadeh.. Foto-foto yang mau diambil jadi gak kece gara-gara lampu mobil dimana-mana 😦 Dan ternyata di tengah safari, pake acara ujan deres gitu aja dong! Alhasil hewan-hewan pada neduh semua, ogah jalan-jalan, takut masuk angin.
2016_0506_10544900
Akhirnya muncul satu yang mau jalan-jalan di tengah gerimis..
Untungnya kita dapet pak supir yang lucu banget. Pas safari singa, dia cerita kalo singa jantan yang satu kurus kering gitu bukan karena kurang makan, tapi istri-istrinya direbut sama singa jantan lain yang lebih kuat! Huahahaha.. Segitu amat.
2016_0506_10173100
Si perebut istri orang
Trus beliau juga suka nunjukkin hewan-hewan tempat kita berhenti. Termasuk ngoreksi celetukan penumpang yang salah nyebut hewan. Untuk hewan karnivora, kalo ga salah TS II nyediain sehari hampir 20 kg daging buat makan. Wew.. Saya lupa itu hewan yang mana. Tapi ya gak ngebayangin sih daging segitu itu seberapa gede..
.
Saya sendiri paling seneng pas di area rusa. Bagus banget yaa rusa ituu.. Cantik, kayak pake high heels gitu hahaha..
.
Selesai safari, hujan bukannya reda malah tambah badai! 😦 Makanya tiket yang seharusnya kita bisa nonton pertunjukan dan nyobain semua wahana gratis, terpaksa gak bisa dipake karena emang gak ada pertunjukkan apa-apa pas hujan :(( :(( Jadi kita memutuskan untuk makan siang sambil nunggu hujan reda.
.
Dari awal saya pengen makan di Tiger’s Cave. Saya pengen ngerasain sensasi makan sambil nontonin harimau putih, Mr. B pengen nyoba daging rusa.
(Oke, kita emang pasangan aneh hahaha..)
Pas nyampe sana, ternyata banyak tempat udah di-reservasi. Ada rombongan TV yang meliput juga hahaha.. Emang masih bau-bau jurnalis yah, masih aja liburan kena bau media :p
.
Daging rusanya juga banyak yang udah habis 😦 Pilihan satu-satunya yang ada daging rusanya cuma burger rusa. Salad yang mau saya pesan juga pada abis. Sediihh.. Akhirnya pilih pasta. Emang di Tiger’s Cave ini tipe masakan western gitu. Ada lagi restoran yang masakan Nusantara, yang satunya gak tau apa.
.
Nunggunya juga cukup lama sampe makanan kita dateng. Untungnya walau hujan, si harimua putih tetep keluar dan makan. Seru banget ngeliatin mereka makan. Jadi pengen punya harimau #eh tapi emang kayaknya harimaunya tuh pelukable gitu deh.
1462676851149
2016_0506_12002700
Harimaunya tepat di wajah sayaa!!
Begitu pesanan kita dateng, langsung deh daging rusa tentunya jadi icip-icip kita.
2016_0506_12054600
Burger daging rusa
2016_0506_12160400
Fettucini Alfredo 
Ternyata rasanya… Bau. Lebih bau dari kambing menurutku. Nggak lagi deh pesen daging rusa. Cukup tau.
Kalo pasta alfredo yang saya pesan sih rasanya standar. Gak ada yang istimewa juga.
.
Selesai makan siang, hujan malah tambah deres 😦 Jadi kita cuma duduk ngobrol-ngobrol gitu.
2016-05-08-23-22-33_deco
Sampe sekitar jam 2 kita mutuskan untuk jalan meskipun hujan. Pake payung kecil berdua. Jangan bayangin kita jalan romantis kayak di film-film Korea gitu deh. Satu sama lain berusaha saling ga kehujanan dan menyelamatkan tas masing-masing yang berisi kamera huahahaha..
.
Muter-muter ternyata juga ga ada yang bisa dilihat. Hewan-hewan pada berteduh semua, ngilang dari pandangan 😦 Untungnya ada foto satwa. Yang pasti foto bareng ular dan orang utan saya skip. OGAH. Orang utan juga terlalu mainstream. Karena sekali moto kena biaya 15 ribu, saya pengen banget foto bareng singa! Hahaha.. Mr. B juga ikutan akhirnya. Singa betina usia 2 tahun kalo ga salah. Namanya Lu….pa! Hahaha..
.
Sayangnya pas saya antri, singanya lagi tidur! Duh kayak apes banget deh kita waktu itu hahaha.. Orang-orang yang antri foto akhirnya foto bareng singa tidur. Halah.. Pas giliran saya, si Luna masih tiduran.
1462676869201
Tuh kan singanya males..
Pas saya udah kelar dan giliran Mr. B yang mau foto, eh si Lusi-nya bangun gitu aja lho! Dasar singa betina! Gak tahan ya lihat cowok ganteng! Huh!
2016-05-08-23-28-11_deco
Saya akhirnya minta foto lagi sama petugasnya, lah gimana.. Si Lulu bangun TEPAT waktu jam foto saya abis. Sebel.. Untungnya dibolehin. Horeee! Dan gak perlu bayar ulang hahaha..
.
Selesai foto-soto, kita muter-muter lagi di area burung. Ya karena hujan jadi burung-burungnya juga ga ngapa-ngapain. Kayaknya sih bisa foto sama burung. Tapi ya sekali lagi karena hujan (yes, let’s blame the rain!), pawangnya ga ada, burungnya juga ogah-ogahan. Tapi ada satu burung yang hiperaktif sih. Burung onta! Hahaha.. Lari-lari ngejarin kita gitu. Serem abis.
.
Untungnya ga berapa lama hujan reda, tinggal gerimis kecil, dan pertunjukan harimau mau mulai. Daripada ga nonton apa-apa jadi kita mau nonton.
2016-05-08-23-18-39_deco
Sebenernya pertunjukannya biasa aja sih. Cuma asik aja gitu ngeliatin harimau-harimau itu disuruh lompat-lompat, minum susu, dll. Tapi entah kenapa saya malah kasian sama mereka. Kayak kecanduan gitu dikasih daging. Harus ngelakuin sesuatu baru dapet daging 😦 Ah sedih sedih..
.
Pertunjukkannya cuma sebentar, sekitar 15 menit. Trus kita mau geser ke pertujukan terakhir yang ditunggu-tunggu: Temple of Terror! Kabarnya kalo ke TS II kudu harus wajib nonton pertunjukan ini.
.
Sebelum itu kita keliling lagi ke dunia air. Mumpung hujan udah reda. Dan rame gitu aja deh tempatnya huhu..
2016-05-08-23-16-28_deco
Jadi mau lihat-lihat banyak orang, dan hewannya kayak lagi males nongol gitu. Yaudah lah.. Cuma nontonin orang foto-foto sama penguin (ewww..).
2016-05-08-23-08-50_deco
Abis itu kita cepet-cepet ke venue Temple of Terror. Baru setengah jam sebelum pertunjukan udah hampir full! Kita dapet tempat duduk di tengah tapi di tangga tempat orang jalan. Penuh banget!
.
Dari semua hiburan yang ada di TS II, kayaknya CUMA ini yang amazing banget! Kita disuguhi pertunjukan akrobatik dan efek-efek yang keren banget. Termasuk hewan-hewan juga diajak di pertunjukan itu. Kereeenn.. Dan pertunjukannya ga boring, soalnya penonton juga dilibatkan di cerita. Dari efek-efeknya pun bener-bener ga main-main. Kalo ngeluarin api ya penonton kerasa panasnya api. Kalo ada air ya penonton kebasahan hehehe.. Seruu abis!
Setelah Temple of Terror, udah sore banget di TS II, udah hampir tutup dan semua orang udah pada mau balik ke parkiran.
Biar gak sayang tiketnya, kita maksa mau maen wahana yang masih buka. Hampir semua wahana buat anak kecil sih, jadi agak susah buat nyari permainan untuk dua orang anak kecil yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa kayak kami gini 😀
.
Akhirnya kita main Safari Swinger karena itu kayaknya satu-satunya wahana yang bisa cocok kita mainin haha..
Dan percaya ga percaya, tempat duduk yang saya duduki itu seharusnya buat anak kecil huhu.. Jadinya sempit banget, pas selesai main pantat dan pinggul saya rasanya nyut-nyutan 😥
.
Sebelum balik parkiran, saya ngotot mau main wahana lain lagi. Sayang tiketnya! Jadilah kita masuk rumah hantu yang biasa banget dan malah bikin gak nyaman. Begitu keluar, TS II sepi total! Mr. B bilang ini rumah hantu yang sebenarnya, dimana semua orang hilang (kebanyakan nonton thriller).
.
Then.. kita pulang deh! Nungguin shuttle bus lagi yang bawa kita ke parkiran. See you… Kapan-kapan deh TS II!
.
Kesan:
Buat nyobain hal baru sih TS II not bad at all. Tapi siap-siap aja kalo hujan dan nggak lagi deh pas long weekend..

Perjuangan Mencari Penghidupan part 1

Hola!
.
Di postingan sebelumnya saya bilang mau cerita kejadian pas mau resign dari Jawa Pos ya? Hmm.. Setelah dipikir-pikir, kayaknya ga jadi cerita deh.
.
*Yaaahhh…* *Suara penonton kecewa*
.
Anu.. Bukan kenapa-kenapa. Cuma kayaknya kok kurang enak aja cerita begituan *eh? Begituan??* Siapa tau juga dari curcolan saya yang gak jelas ini ntar malah ada yang salah nangkep lagi soal Jawa Pos. Kan berabe.. Jadi ya intinya setelah setahun tepat di Jawa Pos saya memutuskan untuk resign. Alasannya… Ya karena udah cukup aja. Saya ngerasa kontribusi yang bisa saya beri untuk perusahaan cuma sebatas setahun itu.
.
Sebenarnya saya berharap Jawa Pos adalah awal karir saya di dunia media yang bisa berjalan cukup lama. Alasan praktisnya sih ya udah saatnya ya saya kerja di perusahaan yang settle. Biar bisa cicil rumah, menata masa depan, layaknya orang dewasa pada umumnya lah! Huahahaha..
.
Tapi ternyata memang Jawa Pos cuma jadi awal karir. Setelah mencoba bernegosiasi dengan diri sendiri, redaktur, dan lain-lain, akhirnya keputusan saya bulat untuk tidak lanjut di Jawa Pos. You can judge me or whatever, saya udah kenyang men-judge diri sendiri sepanjang awal tahun 2016 ketika memutuskan untuk gak lanjut.
.
Ga sayang melepas perusahaan besar gitu?
Ya sayang.
Bukannya pengalaman-pengalamannya banyak? Bisa kenal banyak orang?
Ya emang.
Bukannya itu mimpi kamu dari SMP?
Iya emang.
Bukannya kamu upgrade banyak banget di sana?
Iya banget.
.
Bahkan secara gaji pun menurut saya udah jauh dari cukup di Surabaya. Tapi ya dasarnya saya ga terlalu ngejar duit ya, jadinya saya putuskan untuk cuss..
.
Sebelum nyari kerjaan baru, saya mulai bikin prioritas. Karena saya bertekad ini adalah pekerjaan dimana saya ingin bisa long term, saya bikin list keinginan saya kalau cari kerjaan baru.
1.Kerjaannya harus saya suka, suka banget! Ga jauh-jauh dari dunia media dan kreatif.
2.Sabtu-Minggu libur.
3.Kantornya deket rumah.
4.Bosnya punya visi jelas, kerjaannya jelas.
5.Gajinya oke untuk mulai lirik-lirik rumah (realistis laah)
.
Dari 4 list itu, saya mulai cari-cari kerjaan lain. Awalnya sih mau di majalah. Tapi kalo di Surabaya, majalah apaan yang bisa memenuhi list tersebut yaa.. Gak nemu. Sempet ngode-ngode narasumber-narasumber yang terpercaya (hahaha!), dan munculah satu kata. Triiing! Branding consultant!
.
Entah dari mana kok tiba-tiba aja saya udah ngebrowsing website branding-branding consultant di Surabaya. Dan.. Eh, ternyata banyak juga ya. Dari hasil browsing itu yang menurut saya bisa memenuhi sebagian besar list ada 9 kantor.
.
List pertama yang ga jauh-jauh dari dunia media dan kreatif semuanya masuk (ya iya lah).
List kedua, Sabtu-Minggu libur, kayaknya semua masuk berdasarkan research review, dll.
List ketiga, deket rumah. Yang ini cuma nemu satu 😦 Yang lain yaah.. 20-30 min perjalanan lah. Bahkan ada yang kantornya butuh waktu 40-50 min sekali jalah 😦 Tapi yowis lah.. Kalo yang lain oke kenapa tidak, bisa kompromi lah..
List keempat dan kelima belum tau, masih ngira-ngira dong. Mana eyke ngerti..
.
Inget-inget pesan dari humasnya Lippo Plaza, dia keceplosan curcol gitu hahaha, katanya salah satu tips cepet keterima kerja adalah anter sendiri CVnya ke kantornya! Jangan kirim lewat pos, apalagi email! Okeh, noted. Jadi setiap libur, kerjaan saya sebar-sebar CV dan portfolio. Sehari bisa langsung tiga, bo!
.
Itu masa-masa paling menguras tenaga. Baik raga maupun jiwa. Awalnya saya mau sebar 3 ke yang paling deket rumah. Jadinya cuma dua karena… Kenapa ya? Lupa.. Kayaknya gara-gara udah kecapekan nyari alamat ga nemu-nemu, dan panasnya Surabaya udah keterlaluan.
.
Ternyata responnya bagus aja lho. Besoknya salah satunya langsung manggil interview. Di tes, interview, interview user, pulang. Suasanya asik-asik aja. Padahal sebelumnya saya underestimate banget ini perusahaan. Kantornya susah dicari, padahal di tempat keramaian. Ealah ternyata kantornya cukup gede tapi nama kantornya nyempil gitu aja ketutupan hahaha.. Ternyata not bad sih.
.
Karena udah dipanggil dan (kayaknya) respon mereka bagus, tawaran kerjanya juga oke, jadinya ya saya ngarep dong ya. Sama kantor yang paling deket rumah itu udah gak digubris. Orangnya ditelpon jawabnya judes-judes gimana gitu, sok sibuk euyh! Setelah lewat seminggu.. Dua minggu.. Kok gak ada kabar ya? Langsung lemes saya. Padahal surat resign udah diajuin.
.
Seperti biasa, mama uda mulai ngomong-ngomong lagi, cari kerja, bla bla bla. Saya inget banget waktu itu saya cuma bilang: Udah lah, ma. Dapet, dapet. (Dapet kerja maksudnya)
Langsung diem mama. Hahaha. Saya juga diem. Mikir mau kerja apa yaa..
.
Jadinya mulai ngeprint-ngeprint CV dan portfolio lagi. Lemes karena dua tempat yang ku pengen ga ada respon yang baik (hiks). Nyebarin lagi ke tiga tempat yang ya ampun jauhhnyaaa.. Muter-muternyaa.. Sampe nanya satpam berkali-kali. Padahal masih di Surabaya Timur situ-situ aja. Gak kebayang lah yang di Surabaya Barat itu gimana capeknya di perjalanan. Ogah banget.
.
Waktu nyebarin itu udah gak berpengharapan gitu deh. Saya nyebar karena gak mau bikin mama kuatir anaknya ga dapet kerjaan dan tentunya karena malu sama Mr. B kalo pengangguran lama.
.
Jadinya waktu itu mulai deh kepikiran bisnis lagi. Untuk balik kucing kerja di konsultan tata kota lagi jelas saya ogah. Mau kerja di dunia media yang bisa memenuhi list ini kok rasanya kayak mimpi di siang bolong. Jadi ya mau ga mau harus all out di bisnis kan..
.
Nah akhirnya semuanya udah tau kan kalo akhirnya happy ending? *spoiler detected*
Maaf ya, saya spoiler lover nih. Kalo cerita harus dari awal, ending, baru proses hahaha..
.
Trus, ceritanya gimana kok bisa akhirnya dapet kerja yang memenuhi kelima list tersebut?
Well, nggak 100% memenuhi sih, tapi di sinilah bukti bahwa Tuhan itu masih sayang saya meskipun setahun kemarin saya ancur-ancuran sama Dia. Cerita proses ini cuma secuil bukti bahwa Tuhan itu nggak tidur. Bukti bahwa Tuhan itu menyertai kalo manusianya mau disertai. Gitu..
.
So, stay tune in the next post yah!
Ga nyadar nih uda hampir 1000 kata. Ckckck.. Kebiasaan nih di Jawa Pos. Kalo 1000 kata itu Features. 500 kata itu berita utama. 200-300 kata itu berita kirian. hihihi..

I’m Still Alive!

Ah gile.. It’s like a century I don’t blog anything! Ada yang kangen saya gak ya? Selain si Mr. B *GR dikit*

Dan selama gak blogging ini buuuanyaaakk banget kejadian yang perlu diceritain nih. Sangking banyaknya sampe bingung mau mulai dari mana hahaha.. Mungkin saya bisa mulai dari apa yang terjadi sekarang.
.
Jadi ceritanya sekarang saya udah gak kerja di Jawa Pos lagi. Yeah, you aren’t wrong. Ceritanya cukup panjang bisa jadi satu post sendiri kayaknya hahaha.. Jadi coba next time saya cerita ya. Semoga ada kesempatan buat cerita.
.
Nah terus gimana dong kalo udah ga di Jawa Pos?
.
Sekarang saya kerja di tempat lain yang ga jauh-jauh dari dunia media, tulis-menulis juga. Bahkan lebih menantang karena…. saya bisa maen Instagram dan Facebook seharian boo! Buat kalian yang suka diem-diem buka Facebook, Twitter, atau ngepoin Instagram di jam kerja, kayaknya bisa deh milih kerjaan ini biar ga usah ngumpet-ngumpet kalo mau buka hahaha..
.
Jadi sekarang saya bukan wartawan atau jurnalis lagi ya. Beralih profesi lagi jadi seorang copywriter di sebuah perusahaan konsultan branding di Surabaya. Perusahaan kecil sih, tapi buat saya udah lebih dari cukup. Kerja Senin sampe Jumat aja. Kerjanya juga fleksibel, nggak kaku-kaku banget, dunia kreatif dimana saya diminta bikin-bikin script, konsep, atau caption untuk konten desain sebuah brand. Seru banget! Soalnya itu yang sering saya lakuin bareng Cuz pas masih di konsultan tata kota dulu. Cuma yang sekarang lebih profesional dan bukan seneng-senengan saja.
.
Dan kayaknya keputusan saya untuk cabut dari Jawa Pos adalah keputusan tepat. Jujur aja hidup saya sekarang jadi lebih teratur. Ada waktu buat keluarga, temen-temen, hobi, olahraga. Nggak lagi ada ceritanya muter-muter di jalanan Sidoarjo atau Surabaya berpanas-panas ria, ngejar deadline malem-malem, pulang tengah malem, jajan makanan apapun yang nyenengin mulut, bye-bye kulit hitam dan perut gelambir! Seriusan, sejak pola hidup yang carut marut dulu itu berat saya nyampe 55 kg dan hampir semua celana jeans saya udah ga muat lagi lho 😦
.
Iya. Jadi jurnalis itu segitu beratnya. :(:(
.
Walaupun ninggalin Jawa Pos juga banyak sedihnya sih. Secara kerja di Jawa Pos adalah salah satu impian saya sejak SMP (kalo gak salah inget). Sedih ninggalin temen-temen narasumber yang baiik baik bangeeet nget nget. Yang gak pernah lupa ngasih makan dan minum gratis sampe badan saya bengkak gini *hiks*. Sedih ninggalin temen-temen seangkatan yang udah berjuang bareng dari awal. Sedih ninggalin rutinitas naik ke lantai 4 atau mampir ke lantai 20 buat nyeret makan malam. Ninggalin temen-temen pemasaran yang udah klop dan baik banget mau bantuin selama liputan.
.
Ya intinya kalo di Jawa Pos itu sedih ninggalin suasana kerjanya lah. Tapi demi kesehatan jasmani rohani yang berdampak pada keberlangsungan hidup khalayak ramai, jadi saya merasa di Jawa Pos cukup sampai di siniii…
.
Okeh, mungkin itu dulu updatesnya. Just wanna say that I’m still alive, bo!
.
img_0098
See you again, Graha Pena! Tahun lalu masih kurus ya :((